
Decitan burung yang merdu, menuntun derap langkah kaki seorang gadis kecil nan manis kala itu. Gadis kecil itu bergegas menghampiri gerbang sekolah yang hendak ditutup oleh lelaki paruh baya itu. “Huh, huh, huh. Terima kasih dan selamat pagi, pak Sarip” ucapnya sembari membungkuk memegangi lutunya dan mengatur nafasnya. Kakinya melanjutkan langkah meuju kelas yang bercat coklat dilantai dua itu. Meletakkan tas di bangkunya dan duduk dan mengambil sarapan. Ia memiliki waktu 8 menit untuk menghabiskan sarapannya itu.
Ia duduk di pojok sebelah kanan barisan nomor 3 dari belakang, bersama teman sebangkunya yang sedang mengerjakan sesuatu. “Ruby, sudah selesai tugas bu Nella?” tanya temannya itu. “ Sudah dong, aku tau kamu belum selesai. Ini, salin saja” perintahnya. “ Kau memang yang terbaik, Ruby. Thanks” jawab Nanda diiringi acungan kedua ibu jarinya yang lentik. Ruby hanya mengangguk dan melanjutkan sarapannya yang nikmat. Sampai terdengar suara bel yang menggaung di sekitar pekarangan sekolah.
Pagi itu kelas dibuka dengan pelajaran bu Nella yang sangat dihindari semua siswa di kelas itu. Terlebih lagi bu Nella sudah memasang suara sopran untuk mendongeng pada siswa yang tidak mengerjakan tugasnya. Sebenarnya sudah biasa, ya mau bagaimana lagi?. “Ibu tunggu jam 13.00 nanti. Yang bukunya tidak tersusun di atas meja saya, tidak boleh memasuki kelas saya selama 2 minggu”. Tegas bu Nella dan melanjutkan materinya.
Bel berbunyi, pertanda jam istirahat. Semua siswa di SMAN 7 di daerah terpencil Jawa Barat, Cirebon sudah banyak yang berpencar menyerbu menu menu yang ada pada kantin. Begitu juga dengan Ruby dan Nanda, Ruby menyiapkan beberapa hidangan yang akan menjadi menu jualannya pada hari ini. Sedangkan Nanda membantu Ruby seperti biasa dan menawarkannya pada setiap murid yang lewat. “Ayoo, ayoo. Cobain menu barunya Ruby teman teman. Disini ada martabak mini, piscok, gorengan dan lainnya. Ayo ayo sebelum kehabisan” tawar Nanda.
Beberapa diantara mereka pun tertarik dan memilih beberapa menu untuk dibungkus dan menyerahkan kertas bermotif pahlawan indonesia pada Ruby. Jika lebih diberi kembalinya. Belum sampai setengah jam, menu dagangan Ruby sudah ludes diserbu. Ruby terlihat bahagia dan seperti biasa ia akan memberi beberapa bagian pada Nanda dan seperti biasanya Nanda akan menolaknya. “Sudah lah Ruby, ini kan hasil kerja keras kamu. Lagian kayak sama siapa aja sih” jelasnya.
Ruby hanya tertawa kecil mendengarnya dan menjawab “Hmm, iya iya baiklah. Terima kasih sekali lagi, Nanda yang baik. Ucapan terima kasih saja tidak cukup untukmu”. “Ya ampun Ruby. Aku udah sering loh begini, lagian kamu kan selalu bantuin aku kalau ngerjain tugas. Jadi impas” ucap Nanda sebagai pertanda dialog mereka berakhir.
Waktu terus berjalan dan akhirnya mereka sudah sampai di jam untuk balik ke rumah. Sambil berberes, Ruby mengingatkan pada teman temannya atas pesan bu Nella tadi. Kebetulan Ruby menduduki jabatan sekretaris di kelasnya. Dan ia mebantu mengumpulkan tugas teman temannya untuk dikumpulkan di atas meja bu Nella yang juga searah dengan jalan pulang Ruby. Nanda sudah menunggu Ruby di depan gerbang, dan membuka percakapan. “By, kok hari ini tenang sekali ya?” tanya Nanda mengisyaratkan sepertinya ada sesuatu yang aneh. “Tenang bagaimana, Nanda?”. “Kayak ada yang kurang gitu lhoo, By. Tapi apa ya?”. Tambahnya yang membuat Ruby pun jadi ikut berpikir.
Setelah hening beberapa saat, barulah Nanda menyadari suatu hal. “ OOOH, AKU INGAT” ucap Nanda sedikit berteriak pertanda antusias. “Apa apa apa?” tanya Ruby penasaran. “Hari ini kita tenang karena gaada Sam, By. Pantas saja hari ini tenaaaang sekali”. Ucapnya sambil tersenyum. “ Oh, hahaha Nanda. Aku kira apaan. Memang kenapa kalau Sam ga datang?”. Tanyanya tak paham. “Aduuuh, Ruby. Kamu gimana si? Serius kamu nanya gini? Kemana perginya otakmu yang pintar itu?” kesal Nanda.
“Aku tak paham. Apa maksudmu, Nanda”. “Daganganmu ludes karena ga digangguin noh sama Sam si anak spesial itu. Pantas saja hari ini ringan saja rasanya” jelas Nanda sembari mengipas ngipas buku ke arah mukanya yang dialiri keringat. “Ohh Nanda, hahaha. Iya juga ya? Kemana perginya anak nakal itu. Tapi gapapa, aku senang hari ini daganganku habis. Tapi apa benar ini berkaitan dengan Sam yang tidak datang?”. Tanya Ruby yang sedang kebingungan.
“Ya menurutmu? Biasanya kan dia selalu mengganggu barang daganganmu dan menghasut teman teman yang lain agar tidak membeli barang daganganmu. Kamu ini bagaimana sih? Masa gitu aja lupa? Orang kamu digangguin tiap hari. Udah cape aku menyangkal semua perbuatan jahil anak itu. Dasar”. Kesal Nanda mengingat kelakuan anak lelaki itu.
“Iya juga ya, Nan. Cape juga menghadapi anak seperti itu sebenarnya ya mau gimana lagi coba? Toh nanti dia sendiri nanti yang cape. Biarin aja, Nanda” ucapnya dibarengi senyuman Ruby yang manis. “Jangan terlalu baik, Ruby. Nanti kamu sendiri yang ga sanggup menghadapinya.” Nasihat Nanda. “Tenang aja, Nan. Aman kok. Anyway, thanks for today. See u tomorrow at school, Nanda”. Diikuti lambaian tangan oleh keduanya.
Yaa, begitulah. Ruby Intan Yuwindra, gadis asal Jawa Tengah tepatnya di suatu daerah di Cirebon menjalani hidupnya. Sekarang ia berada di kelas 11.1, kelas unggulan tepatnya. Ia berasal dari keluarga yang pas pasan. Ia bersekolah karena meraih beasiswa dahulu saat ia berada di tingkat sekolah menengah pertama. Ia tinggal bertiga dengan ayah dan ibunya. Ayahnya bekerja sebagai buruh dengan penghasilan yang lumayan, sedangkan ia membantu ibunya dengan berjualan di sekolah untuk biaya tambahan. Tetapi ia bahagia karena bisa hidup berkecukupan tanpa ada kekurangan sedikitpun.
Selain itu, Ruby juga terkenal sebagai gadis yang cerdas, aktif dan juga rupawan. Ia menguasai beberapa bidang, salah satunya debat dalam bahasa mandarin yang pernah ia juarai saat kelas 10. Ia juga mantan wakil ketua osis saat ia duduk di kelas 10. Karena itulah Ruby sangat disayang oleh orang tua, guru guru dan terkenal di kalangan teman temannya. Ia juga menjadi juara paralel di angkatannya. Sungguh Ruby lihai dalam menyeimbangkan segala pekerjaannya.
Hanya satu hal yang ‘mungkin’ menganggu pikirannya. Sejak ia menunjukkan potensinya di kelas 10, ia mulai menjadi topik pembicaraan. Namanya tersebut dari mulut ke mulut. Dan terdengar oleh seorang remaja yang tidak menyukai kabar itu. Samuel Devano Lintang namanya. Ntah mengapa, Sam tidak menyukai kabar itu. Sam yang terkenal nakal sejak masa pengenalan sekolah itu sudah mengincar Ruby sejak ia menduduki peringkat 1 paralel di angkatannya.
Sam juga hanya murid biasa. Kelebihannya, ia hanyalah putra tunggal kepala sekolah SMAN 7 Cirebon itu. Sebenarnya Ruby tidak mempermasalahkan hal itu. Justru sebaliknya, Ruby malah merasa prihatin dengan perilaku Sam. Ruby berpikir bahwa Sam hanya kesepian dan hanya butuh hiburan. Makanya ia hanya diam dan tersenyum saat Sam mengolok olok dagangannya. Sejauh ini, Sam hanya sampai dengan perkataannya saja, dan Ruby tidak mengambil hati atas ucapan Sam. Nanda lah yang terpancing, dan membalas semua olokan Sam.
Di sisi lain, Sam juga kesal karena bukan Ruby yang meresponnya melainkan Nanda. “Tidak tepat sasaran” batinnya. Dan itu menjadi rahasia umum untuk warga SMAN 7 Cirebon, termasuk ayahnya Sam. Berkali kali Sam dipanggil untuk dinasihati baik dengan cara yang lembut maupun yang kasar. Namun nihil. Sam selalu mengulang perbuatannya itu. Mengetahui hal itu, ayahnya Sam mengambil tindakan berupa menjauhkan Sam dari Ruby dengan cara tidak membiarkan keduanya sekelas. Hal ini mungkin sedikit membantu agar Sam tidak sering bertemu Ruby. Dan seperti yang terjadi, Sam hanya menyerang Ruby saat jam istirahat.
Karena ia tau putranya mampu berbuat apa saja saat Sam berkata “Ini baru permulaan, Ayah”. Ia tau betul bagaimana darah dagingnya itu. Sam nakal seperti ini juga setelah ia kehilangan ibunya saat ia berada di bangku kelas 9. Malaikatnya, bidadarinya, pahlawannya, temannya, dunianya sudah tidak bersamanya lagi. Sulit bagi Sam untuk menerima kenyataan itu. Ditambah lagi tuntutan ayahnya semenjak kepergian ibunya. Karena didesak seperti itu, Sam merasa sesak dan bertindak seperti itu untuk melampiaskan semua emosinya.
Dan Ruby teramat sangat memahami kondisi Sam, makanya ia tidak membalasnya yang membuat Sam semakin terpancing untuk menjadikan Ruby sebagai mangsanya. Ntah mengapa ia merasa harus melampiaskan semuanya pada Ruby. Sam sendiri juga tidak mengetahui alasannya. Dan Sam juga tak tau mengapa ia hanya mengganggu Ruby saat istirahat.
Selain Ruby, sebenarnya banyak korban lainnya yang menjadi sasaran Sam. Bahkan ia sampai tidak memiliki teman karena mereka takut untuk berteman dengan Sam. Tapi akhir akhir ini ia merasa bosan dan hanya memerhatikan Ruby. Ia menyusun beberapa rencana agar Ruby merespon semua aksinya. Dari mengolok olok, menyembunyikan sepatu, buku buku Ruby, dan masi banyak lainnya. Dan Sam teramat kesal karena Ruby hanya meresponnya dengan senyuman manis yang terukir di wajah rupawan Ruby.
Ia membuang buang seluruh waktunya yang berharga hanya untuk menumbangkan seorang Ruby. Dan Ruby sendiri dengan santainya menepis semua rencana Sam yang membuat Sam benar benar jengkel. Ruby tau, Sam hanya iri padanya. Menurutnya, ia lebih kaya dibanding Sam karena masih memiliki kedua orang tua yang selalu berada disampingnya, tanpa tuntutan, selalu berbagi cerita dengan orang tuanya bagaimana hari ini apakah menyenangkan atau tidak dan masih banyak lagi.
Matahari pun mengetuk jendela kamar Ruby, bersamaan dengan lambaian suara ibunya yang menyeru namanya agar bangkit dari kasur. Ia bersiap baik fisik maupun mental karena ia tidak tau gebrakan apa hari ini yang akan menghampirinya. Juga ada tugas presentasi dari mata pelajaran bu Diah yang menanti. Dilanjutkan dengan aksinya yang menyantap sepiring roti dan segelas susu. Sedikit berlatih untuk presentasi dan menyalami kedua orang tuanya dan membawa dagangannya. Sudah menjadi rutinitas baginya. Ia menenteng beberapa totebag dan berjalan dengan alasan sekalian olahraga yang jaraknya lumayan jauh dari rumahnya.
Setiap pagi saat berada di depan gerbang, ia selalu menyapa pas Sarip kadang juga mebahas beberapa topik sebelum Ruby memasuki kelasnya. Pak Sarip juga selalu senang karena selalu disapa oleh gadis seperti Ruby. Saat bel masuk hendak berbunyi, disitulah akhir percakapan Ruby dengan pak Sarip. Ia lanjut melangkahkan kakinya menuju kantin untuk menitipkan barang daganganya ke penjaga kantin dan kembali lagi ke kelasnya. Disambut oleh Nanda yang sedang berlatih untuk presentasinya.
Pelajaran bu Diah juga menyenangkan untuk Ruby, apalagi Ruby suka sekali melakukan presentasi. Setiap praktik presentasi, nilai Ruby selalu A. Ia juga diutus untuk mempresentasikan sekolahnya pada adik adik sekolah menengah yang hendak melanjutkan studi di sekolah menengah atas. Penyampaian materinya sampai ke audience dengan bahasa yang simpel sehingga mudah dimengerti. Kemampuannya dalam memahami dan menyerap materi patut diacungi jempol.
Banyak mereka yang iri pada Ruby, ya itulah salah satu faktornya. Dan seperti biasa, Ruby memperoleh nilai A pada praktik Presentasi kali ini yang berjudul “Biola”. Ia menyukai seni, tapi ia mengetahui kondisi keluarganya yang seperti ini, jadi ia menyembunyikan impiannya tentang seni dan menonjolkan potensinya pada bidang lain. Bu Diah bangga dan meminta teman sekelasnya untuk mencontoh ketekunan dan ketelitian Ruby agar membantu nilai praktiknya.
Semua menyambut dan mengakhiri presentasi Ruby dengan tepuk tangan yang berisi kebanggaan. Mereka sangat termotivasi dengan Ruby. Ruby yang rendah hati juga sering berbagi ilmu pada teman temannya. Saat melakukan tugas, saat temannya tidak mengerti materi, bahkan saat temannya hendak belajar untuk lomba mewakili sekolah. Ruby sangat suka berbagi dan hal itulah yang membuat semua orang jatuh hati saat mengetahui sifatnya lebih dekat.
Ruby bisa seperti ini juga berkat orangtuanya yang selalu mendukung Ruby tanpa henti. Ia terbiasa dengan soal essay, public speaking, wawancara dan lainnya sedari sekolah menengah pertama saat hendak eraih beasiswa yang akan membiayai sekolahnya nanti. Sifat positifnya ia peroleh dari lingkungan yang ia naungi. Pantang menyerah, selalu mencari tahu, saling mendukung, supportif, jujur, pengertian juga ia peroleh dari didikan orang tuanya. Dan karena itulah ia bangga menjadi anak ayah ibunya dan ia sangat bersyukur mendapat anugrah dan kehidupan seperti ini. Ia berpikir cara mewujudkan rasa syukur ini adalah dengan saling berbagi dan membantu bagi yang membutuhkan.
Hal inilah yang membuat Sam jengkel pada Ruby. Setiap ia melakukan sesuatu hal ayahnya juga sering membandingkan dirinya dengan Ruby. Terlebih ayahnya menyebut nama Ruby dengan segala tuntutan yang ia paksakan padanya. Karena itu, saat melihat bahkan mendengar nama Ruby ia sudah dongkol terlebih dahulu. Ia sangat cepat tersulut emosi. Tentu hal ini sangat kekanakan tapi ia tidak peduli akan hal itu.
Sampai suatu hari, ia menyusun suatu rencana yang ia pikir akan membuat Ruby terkesan. Hari pertama, Sam mengikuti Ruby saat pulang agar ia mengetahui alamat Ruby, hari kedua ia membeli beberapa properti agar membantu rencananya ini. Dan hari ini, hari ketiga. Hari dimana Sam memutuskan untuk melancarkan rencananya. Ia mengutus beberapa suruhan agar mengecoh perjalanan Ruby hingga semua dagangan Ruby berserakan di jalanan. Ruby menangis di tempat. Ia dibantu oleh pejalan kaki yang kebetulan melihat Ruby diganggu orang orang tidak dikenal. Kemudian ia mengutip semua dagangannya dan tak tau harus berbuat apa. Apa yang harus ia sampaikan pada ibunya, apa yang harus ia lakukan pada dagangan ibunya yang sudah dilumuri pasir jalanan ini. Ia menangis sejadi jadinya.
Ia memutuskan untuk menanam dagangannya yang bisa terurai dan memberikan beberapa pada hewan jalanan, tak lupa berterimakasih pada yang telah membantunya. Ia melanjutkan perjalanan sambil menghapus air matanya yang telah menyentuh dagunya yang dingin. Sesampainya di sekolah, ia tidak menyapa pak Sarip seperti biasanya. Pak Sarip juga terkejut melihat Ruby yang bergelinang air mata. Sungguh pemandangan yang tak biasa. Kelas yang awalnya berisik menjadi hening saat Ruby memasuki ruangan itu. Semua mendekat pada meja Ruby,menanyakan apa yang terjadi, mengapa, bagaimana. Ruby menangis di atas meja disambut Nanda yang mengelus punggung Ruby.
Ia meminta agar Ruby diberi ruang sehingga ia bisa menenangkan diri. Saat guru mata pelajaran masuk, Ruby diberi keringanan agar menenangkan diri di ruangan konseling. Bu Vanya dengan senang hati menyambut Ruby dengan hangat. Ini juga pertama kalinya di hidup Ruby memasuki ruangan konseling. Bu Vanya pun memberi waktu agar Ruby mengeluarkan seluruh emosinya sehingga nanti lebih leluasa berceritanya.
Setelah puas menangis, ia mulai bercerita dari awal hingga akhir kejadian yang sudah menimpanya hari ini. Ia juga bercerita bahwa ia sedih dan tak sanggup menceritakan hal ini pada ibunya. Dengan bijaksana, bu Vanya memberi solusi, menenangkan Ruby, hingga membuat Ruby tertawa kembali. Setelah itu, Ruby diberi pilihan beristirahat di ruangan konseling atau kembali ke kelas selagi bu Vanya melaporkan kasus ini pada kepala sekolah.
Mendengar cerita bu Vanya, kepala sekolah SMAN 7, Andre Adiguma Lintang pun langsung turun tangan. Dari mewawancarai seluruh warga sekitar apakah memang daerah sana selalu terjadi hal seperti itu, mewawancarai kantor kepolisian setempat, dan terakhir warga sekolah. Melihat ayahnya langsung turun tangan menangani kasus ini, Sam semakin membara. Ia makin mendongkol dalam hati. Setelah menunggu 3 hari, Andre menemukan kamera CCTV di salah satu toko yang memperlihatkan dengan jelas orang orang suruhan tersebut yang kebetulan plat motornya terpampang dengan jelas.
Dengan mudah pihak kepolisian menemukannya dan menetapkan para tersangka dalam kasus percobaan pembunuhan. Total 2 orang dan mereka diwawancarai di ruangan yang tersedia. Tersangka menjawab dengan jujur bahwa mereka hanya suruhan seorang remaja dengan bayaran yang lumayan. Dan menyebutkan remaja itu bersekolah di SMAN 7 Cirebon. Tentu saja, Andre mencurigai 1 nama. Sepulang dari kantor polisi, ia langsung berbicara 4 mata dengan nama tersebut, siapa lagi kalau bukan Sam.
Tanpa basa basi, Sam berkata sejujurnya pada sang ayah. Ia mengaku sudah muak dengan semua tuntutan ayahnya. Ia menumpahkan semua kekesalan, benci, dendam, kesal, dongkol, marah langsung di depan wajah sang ayah yang teramat sangat terkejut mendengar pernyataan anaknya ini. Sam yang penuh akan emosi pun meninggalkan ayahnya sendiri di ruangan kerjanya. Membiarkan ayahnya dengan pikirannya. Disisi lain, Sam juga merasa bersalah pada Ruby. Ia tidak melakukan apa apa tetapi Sam malah menganggu Ruby. Ia menyadari kesalahanya. Dan berniat meminta maaf secara langsung tanpa perantara pada Ruby.
Langsung, dengan bergegas Sam menuju rumah Ruby sambil membawa beberapa buah tangan sebagai tanda permintaan maaf. Ruby terkejut. Tidak ada angin tidak ada hujan, Sam datang menghampiri rumahnya dengan niat yang baik. Sam pun menyampaikan tujuannya mengapa ia memasuki rumah Ruby dan meminta maaf dengan tulus dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya.
Sejujurnya, Ruby sangat bangga pada Sam. Ia berani mengakui kesalahan, bertanggung jawab, dan sampai berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya. Dengan senang hati, Ruby memaafkan Sam. Ia juga mengatakan bahwa ia mengetahui mengapa Sam melakukan hal itu padanya. Dan ia sangat tidak menyangka hal ini ada pada diri Sam. Sangat langka, pikirnya.
Sesampainya Sam di rumah, Andre tampak menunggu kepulangan putranya itu dengan duduk di ruangan tamu. Ia menghampiri Sam yang berjalan menuju kamarnya. Juga meminta maaf pada bujangnya itu jika semua perkataannya menyakiti hati tunggalnya itu. Dan tentu dengan senang hati, Sam memaafkan ayahnya itu. mereka berpelukan. Ayahnya menyatakan bahwa ia sangat bangga memiliki putra tunggal seperti Sam, dan beruntung memilikinya. Ia juga menyatakan bahwa ia tidak serius dalam membandingkan dirinya dengan Ruby. Di dalam hatinya paling dalam, Andre benar benar bersyukur dan bangga memiliki anak pemberani seperti Sam.
Setelah kejadian itu, SMAN 7 Cirebon terasa makin asri dan damai. Jika ada kasus bullying seperti apa yang dialami Ruby, Sam lah yang maju di garda terdepan agar memusnahkan jiwa pembully pada warga SMAN 7 Cirebon. Dan makin hari SMAN 7 Cirebon melahirkan bibit indonesia emas 2045 dengan terus mencetak prestasi tiada henti dan nama SMAN 7 Cirebon semakin dikenal karena campur tangan kerjasama Ruby dan Sam yang berperan besar di dalamnya.
