
Senyum Berlian Waisani
Oleh: Fatimah Yohanna Yanti G.
Pagi itu, Herna terdiam dan termenung di depan laptopnya. Hari paling bersejarah yang selalu terkenang. Tepat hari itu adalah pengumuman kelulusan ujian SM3T (Sarjana Mengajar di daerah 3 T). Herna mendapatkan penempatan mengajar di SD Negeri 2 Waisani, Papua Barat. Dia tidak menyangka akan mendapatkan penempatan sejauh ini. Akhirnya, meskipun dengan berat hati, dia menyampaikan berita ini kepada orang tuanya. Ibunya selalu mendukung keputusan anaknya. Tetapi di hati kecil herna, dia sedih harus meninggalkan ibunya seorang diri merawat ayahnya yang sakit stroke. Tetapi kata-kata motivasi ibunya selalu menyemangatinya, ibunya selalu berpesan bahwa jangan jadikan masalah sebagai penghambat mimpimu. Hal itulah yang membuat dia tetap semangat dan terus berjuang.
Seminggu kemudian, tibalah saatnya jadwal keberangkatan mereka. Sehari sebelum berangkat, mereka dikumpulkan di kampus UNIMED untuk acara pelepasan. Mereka dibekali nasihat sebagai bekal menjadi guru yang baik dan memiliki karakter yang menjadi contoh di masyarakat nantinya. Herna dan 2 orang temannya nanti berangkat bersama-sama. Mereka bertiga ditempatkan di papua tetapi sekolahnya berbeda-beda.
Mereka berangkat dari Medan ke Sorong memakai pesawat terbang, lama perjalanan kurang lebih 9 jam. Sesampai di Sorong, mereka harus melalui jalur laut untuk sampai ke waisai kurang lebih 3 jam. Sungguh perjalanan yang luar biasa untuk sampai di tempat mengabdinya selama 1 tahun. Tiba di lokasi, mereka langsung dijemput oleh UPT Dinas pendidikan setempat. Herna pun diantar ke sekolahnya, sesampai disana dia langsung disambut hangat oleh kepala sekolahnya. Kebetulan di dekat sekolah tersedia rumah dinas guru, Herna pun diarahkan kepala sekolah untuk beristirahat dulu.
Keesokan harinya, tibalah menjadi hari pertama Herna mengajar disana. Herna mengajar di kelas IV SD, dan memperkenalkan diri sebagai guru baru. Anak-anak sangat senang dan bahagia dengan kedatangan Herna di sekolah mereka. Salah satu anak bertanya,”Ibu, Ibu orang mana? Ibu sangat cantik sekali?”. Herna tersenyum manis, di dalam hatinya anak-anak ini sangat polos dan jujur. Herna pun menjawab, “Ibu orang Medan nak, dan terimakasih untuk pujiannya ya nak.”
Hari-hari pun berlalu, Herna mengajar dengan penuh semangat. Anak-anak sangat senang diajarkan sama ibu Herna. Herna selalu mengajar dengan sabar, terkadang dia mengajar sambil mengajak anak bermain. Seorang anak selalu menjadi pusat perhatiannya, anak itu berbeda dengan anak yang lainnya. Dia sangat istimewa, badannya paling besar diantara temannya. Dia Arfail, panggilannya Arfa. Dia sudah tinggal kelas 2 kali, karena Arfa ini adalah anak autis yang memiliki perkembangan inteligensi yang lambat. Herna suka memberikan gambar – gambar emoticon lucu kepada anak-anak setiap pagi. Ketika Arfa mendapatkan emot senyum, dia langsung memeluk Herna. Arfa mulai nyaman bersamanya. Herna selalu sabar mengajari Arfa, terkadang dia sengaja datang ke rumah Arfa untuk mengajarinya di rumah untuk membaca dan berhitung dasar. Berbagai cara yang sudah dilakukannya, sampai akhirnya Arfa bisa membaca dan berhitung. Tulisannya juga sudah mulai bagus dan Arfa pun selalu tersenyum senang kalau Herna memujinya.
Tibalah saatnya ada lomba paduan suara antar sekolah. Bu Herna menanyakan siswa yang bersedia ikut lomba paduan suara itu. Ada sepuluh orang anak yang tunjuk tangan, salah satunya Arfa. Semua anak terkejut melihat Arfa tunjuk tangan, karena mereka tahu Arfa adalah anak yang cuek, tidak peduli dan hidup dengan dunianya sendiri. Salah satu anak menyeletuk,”Hei Arfa ngapain kamu ikut, gara-gara kamu nanti kita bisa kalah.” Teman-temannya langsung menyoraki Arfa, “Huhhhh!!!!.” Mendengar hal ini, Bu Herna pun langsung menegur anak-anak semuanya. Bu herna pun menasehati mereka semua, “Anak-anak ibu semuanya, sikap kalian tadi sudah melewati batas, kalian tidak boleh memandang sebelah mata teman kalian. Meskipun teman kalian itu tidak hebat dan tidak pandai, kalian tidak boleh menjelek-jelekkannya. Kita tidak tahu ternyata Arfa ini punya bakat seni, meskipun dia tampak cuek dan tidak pintar pelajaran umum.” Sekarang ibu tanya kepada kalian, “Apa tujuan dari Pancasila sila kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia?” Semua anak terdiam sejenak. Bu Herna pun menjelaskan, semua manusia tercipta dengan berbeda-beda bentuk dan kepandaian. Tuhan menciptakan kita berbeda, agar kita saling menghargai satu sama lain. Kita dapat belajar dari perbedaan dan saling menutupi kekurangan dari teman kita. Semua orang punya hak untuk mendapatkan pendidikan yang sama di sekolah ini, seperti teman kamu Arfa. Arfa juga ingin bersekolah dan berani tampil seperti kalian. Jadi kalian tidak boleh mengejeknya lagi ya!. Janji sama ibu? “Janji bu!”.
Nah, sekarang Ibu mau kalian semua minta maaf sama Arfa. Akhirnya semua anak bergantian minta maaf kepada Arfa. Mereka semua pun bersalaman dengan Arfa. Arfa tersenyum kepada Bu Herna dan memaafkan teman-temannya. Bu herna pun memilih sepuluh anak perwakilan sekolah untuk ikut lomba paduan suara. Anak yang terpilih adalah Arfa, Dio, Lucas, Silas, Jhon, Maria, Dea, Shanny, Mery, dan Dita. Merekapun dilatih langsung sama Bu Herna. Ternyata benar perkiraan Bu Herna, Arfa sangat berbakat di bidang seni. Arfa ternyata sangat pintar bernyanyi. Mereka berencana tampil mengenakan pakaian tradisional papua dan memakai berbagai pernak-pernik pendukung kostum. Mereka juga bernyanyi sambil memakai gerakan tarian unik dan Arfa menjadi pemain utama dari tarian itu. Bu Herna pun takjub melihat keberanian Arfa, dia sangat berbeda dari sejak pertama kali bertemu dengannya. Dia bersyukur melihat perkembangan Arfa yang luar biasa.
Tibalah saatnya untuk kegiatan lomba, mereka pun bersiap menuju Manokwari, Ibu kota Papua Barat. Sesampai disana, tiba – tiba Arfa mengalami panik karena melihat banyaknya orang yang hadir. Arfa pun tiba-tiba menghilang, semua temannya pun sibuk mencari Arfa. Begitu juga Bu Herna, Bu herna bingung mau mencari Arfa kemana. Setelah sibuk mencari kemana-mana, Arfa terlihat duduk kebingungan di taman dekat kolam ikan. Akhirnya Bu Herna menghela nafas panjang, dia merasa tenang setelah melihat Arfa.
Sesampai di dekat kolam, Bu Herna datang membawa 2 buah es krim yang sengaja dibeli dari toko sebelah gedung.
“Arfa, lagi ngapain nak? Arfa suka kolamnya? ikannya besar-besar ya?” sahut bu Herna. Arfa terkejut melihat Bu Herna ada disana. “Ibu, Arfa takut tampil.” Ibu Herna tersenyum mendengar penuturan polos dari Arfa. Dia pun memberikan satu es krim utk Arfa dan mengajaknya untuk makan es krim bersama-sama. Sembari makan es krim, Bu Herna bercerita kisah masa kecilnya.
“Dahulu, ibu adalah anak yang penakut, tidak berani dan tidak percaya diri. Badan ibu kecil dan kurus. Tetapi kakak ibu selalu menyemangati ibu, dia selalu mengatakan bahwa tidak ada hal yang perlu ditakutkan. Anggap saja semua penonton itu adalah pohon – pohon di hutan, dan kamu sedang bernyanyi di tengah hutan yang hijau dan asri. Biasanya penampilan pertama itu memang selalu menakutkan, tetapi percayalah ketika tepukan gemuruh menyelimuti ruangan, akan ada rasa senang di hati Arfa nantinya. Dulu ibu juga sebelum tampil, selalu menyempatkan minum es krim rasa coklat di taman. Dengan begitu hati menjadi tenang dan siap untuk tampil.”
Arfa pun terdiam, dan dia mulai membuka es krim dan menyesap es krim tersebut. Selesai makan es krim, Arfa pun berkata,” Bu, Arfa sekarang berani tampil, ayo bu ke ruang lomba. Mereka pun akhirnya menuju gedung lomba. Sesampai disana teman-temannya langsung memeluk Arfa dengan perasaan bahagia. Tibalah saatnya mereka akan tampil. Mereka berdoa bersama sebelum tampil. Ketika tampil semua penonton dibuat takjub dengan penampilan mereka. Mereka semua tampil dengan totalitas dan semangat yang luar biasa. Semua juri dan penonton berdiri dan memberikan tepukan gemuruh terhadap penampilan mereka. Air mata Bu Herna pun menetes, dia terharu dan bangga melihat anak didiknya. Ketika mereka turun dari panggung, mereka pun langsung memeluk Bu Herna.
Tiba saatnya pengumuman, semua penonton pun diam dan tegang. Ketika Juara ketiga dan kedua disebutkan beberapa sekolah yang namanya disebut bersorak gembira. Juara pertama pun dibaca seorang juri, dia menyebutkan bahwa juara pertama tahun ini adalah SD Negeri 2 waisani. Semua mereka bersorak dengan sangat gembira. Bu Herna dan muridnya pun berfoto. Bu Herna berkata kepada mereka, “Kalian adalah berlian dari Waisani”. Mereka pun tersenyum dan memeluk Bu Herna dengan penuh cinta. Bu Herna sangat bersyukur telah diberi kesempatan mengajar anak-anak hebat seperti mereka. Kenangan yang akan terukir indah di hatinya. Terimakasih anak-anak hebat, Indonesia maju!.
BIONARASI PENULIS

Nama lengkap penulis, Fatimah Yohanna Yanti Gultom, lahir di Padangsidimpuan pada tanggal 26 Juni 1990. Penulis merupakan anak pertama dari lima bersaudara. Ayah nya seorang guru dan ibunya petani. Penulis merupakan lulusan S1 Pendidikan Ekonomi dari Universitas Negeri Medan. Saat ini penulis bertempat tinggal di Duri, Kecamatan Pinggir Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau. Penulis memiliki hobby memasak dan membaca. Saat ini penulis sedang mengajar di SMA IT AL KAUTSAR DURI sebagai guru bidang studi IPS Ekonomi. Selain itu penulis juga aktif mengajari anak-anak sekolah dasar menulis dan membaca untuk masyarakat sekitar rumahnya.
Penulis dapat ditemui di laman media sosial instagram dengan nama akun @fatimahyohannayantigultom atau melalui email fyohanna45@gmail.com.
